JAKARTA – Menanggapi tawaran Indonesia dan sejumlah negara untuk memfasilitasi dialog, Iran menegaskan tidak akan membuka ruang negosiasi dengan Amerika Serikat dalam bentuk apa pun di tengah eskalasi konflik Timur Tengah.(6/3)
Duta Besar Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi menyampaikan sikap tersebut saat ditemui di kediamannya di Jakarta, Kamis (5/3). Pernyataan itu merujuk pada kesiapan Indonesia, termasuk Presiden Prabowo Subianto, untuk menjadi mediator guna meredakan ketegangan kawasan.
“Usulan dari pemerintah Indonesia, kami ingin menyampaikan bahwa kami tidak ada negosiasi dalam bentuk apa pun dengan kaum musuh, dikarenakan kami sudah tidak percaya dengan yang namanya negosiasi,” kata Dubes Boroujerdi diwartakan Antara.
Ia menegaskan Teheran telah beberapa kali melakukan negosiasi dengan Amerika Serikat, namun selalu berujung pada pelanggaran komitmen atau tindakan militer dari Washington.
Menurut Boroujerdi, negosiasi pertama terkait program nuklir yang menghasilkan Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) pada 2015. Namun, Amerika Serikat kemudian menarik diri dari perjanjian tersebut
“Negosiasi kedua adalah lima putaran kami melakukan negosiasi dengan mereka dan di tengah-tengah negosiasi mereka telah menyerang negara kami,” katanya merujuk pada serangan Juni 2025.
Adapun negosiasi ketiga berlangsung dengan Oman sebagai mediator. Ketika itu, delegasi Iran dan AS sedang menjalani putaran ketiga perundingan tidak langsung di Jenewa, Swiss, sebelum akhirnya operasi militer AS-Iran dilancarkan pada 28 Februari.
Merujuk pada pengalaman negosiasi yang berakhir tanpa hasil, Boroujerdi menekankan bahwa Iran tidak akan menerima bentuk perundingan apa pun pada fase konflik saat ini.
“Ini berkaitan dengan komitmen terhadap sebuah negosiasi dan jaminan akan berlangsungnya sebuah negosiasi sampai pencapaian hasil. Untuk kali ini kami tidak akan menerima bentuk negosiasi apapun dan kami akan mengejar perang ini sampai kemenangan Iran,” ucapnya.
Selain Indonesia, Presiden Rusia Vladimir Putin juga menyatakan kesiapan menjadi mediator. Berdasarkan pernyataan Kremlin, Putin menawarkan diri sebagai perantara dengan menyampaikan keluhan Uni Emirat Arab (UEA) terkait serangan tersebut kepada Iran.
Penawaran tersebut disampaikan Putin dalam percakapan telepon dengan Presiden UEA Mohammed bin Zayed Al NahyanNahyan, seperti dilansir dari CNA.Id
Editor : ERICK




