DUMAI — PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit Dumai (Kilang Dumai) memaparkan strategi pengelolaan lingkungan, termasuk penanganan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3), pengelolaan sampah, serta upaya mitigasi abrasi di kawasan pesisir. Pemaparan tersebut disampaikan dalam Seminar Multipihak bertajuk “Mewujudkan Lingkungan Permukiman yang Sehat di Sekitar Kawasan Industri di Grand Zuri Hotel Dumai, Kamis (22/10/2026).

Kegiatan yang diselenggarakan Kantor Redaksi Bersama (KRB) Poros Bumi Ayu bersama Yayasan Bumi Alam Hijau tersebut menjadi forum dialog antara industri, pemerintah, akademisi, media, dan masyarakat untuk membahas tantangan lingkungan di kawasan permukiman yang berdekatan dengan aktivitas industri.

Dalam siaran pers yang diterima Senin (26/10/2026), Kilang Dumai menyampaikan bahwa pengelolaan lingkungan merupakan bagian dari pelaksanaan operasional perusahaan. Materi dipaparkan langsung oleh Section Head Environment–HSSE PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit Dumai, Rachmat Harris Firmansyah.

Dalam paparannya, Harris menjelaskan berbagai aspek pengelolaan lingkungan yang mengacu pada ketentuan peraturan perundang-undangan. Materi tersebut mencakup pengelolaan limbah B3, pengelolaan sampah, pemantauan lingkungan, serta berbagai upaya pengendalian dampak lingkungan dari kegiatan industri.

Ia menyebutkan bahwa pelaporan pemantauan dan pengelolaan lingkungan Kilang Dumai dilakukan secara berkala kepada Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Dumai dan berada dalam pengawasan Kementerian Lingkungan Hidup.

“Terkait pengelolaan sampah dan limbah B3, seluruh pelaporan pemantauan dan pengelolaan lingkungan di Kilang Dumai dilakukan secara berkala dan transparan kepada DLH Kota Dumai serta dipantau langsung oleh Kementerian Lingkungan Hidup. Hal ini untuk memastikan data yang kami laporkan sesuai dengan kondisi di lapangan,” ujar Harris.

Mitigasi Abrasi dan Pemberdayaan Masyarakat Pesisir

Selain pengelolaan limbah, persoalan abrasi pantai juga menjadi salah satu pembahasan dalam seminar tersebut. Harris mengatakan, Kilang Dumai turut mendukung upaya mitigasi abrasi melalui program pemberdayaan masyarakat pesisir, salah satunya bersama kelompok nelayan Mundam Jaya.


Menurutnya, upaya penanganan abrasi dilakukan secara bertahap melalui penanaman mangrove, pengembangan tempat pembibitan atau *nursery* mangrove, serta pemetaan potensi ekonomi masyarakat pesisir.


Perusahaan juga memperkenalkan inovasi Alat Pemecah Ombak (APO) untuk membantu melindungi kawasan penanaman mangrove dari hempasan gelombang.


“Pelaksanaannya tentu bertahap. Kami mendampingi kelompok nelayan Mundam Jaya untuk ikut menanam mangrove dan mengembangkan nursery mangrove, sekaligus memetakan potensi ekonomi masyarakat pesisir. Kami juga menghadirkan inovasi APO agar mangrove yang ditanam tidak mudah rusak akibat gelombang tinggi,” jelasnya.

Harris menambahkan, program tanggung jawab sosial dan lingkungan perusahaan dilaksanakan melalui pendekatan Community Development, yakni membangun kapasitas kelompok masyarakat agar mampu terlibat secara aktif dalam upaya menjaga lingkungan.

Melalui pendekatan tersebut, kelompok masyarakat didorong untuk mengembangkan keterampilan, memperoleh pendampingan, serta menjadi contoh bagi komunitas lain dalam menjalankan kegiatan pelestarian lingkungan.

“Kami ingin membangkitkan kembali kepedulian masyarakat. Kelompok seperti Mundam Jaya kami dampingi dan berdayakan agar dapat ikut membantu mengatasi abrasi. Harapannya, pengalaman mereka bisa dibagikan dan diterapkan di kawasan pesisir lainnya,” kata Harris.

Meski demikian, efektivitas program penanaman mangrove dan penggunaan APO dalam mengurangi abrasi tetap perlu dilihat berdasarkan perkembangan vegetasi, kondisi garis pantai, serta hasil pemantauan lingkungan secara berkala.

Forum Dialog Industri, Pemerintah, dan Masyarakat

Ketua Panitia, Bambang Eka Setiawan yang akrab disapa Baim, menyampaikan apresiasi atas dukungan Kilang Dumai dalam penyelenggaraan seminar tersebut.

Ia mengatakan, kegiatan ini dirancang sebagai ruang dialog multipihak untuk memperkuat pemahaman dan kepedulian terhadap persoalan lingkungan, khususnya di kawasan permukiman yang berdekatan dengan wilayah industri.

Seminar yang dimoderatori Ahmad Bilal, ST., tersebut juga menghadirkan praktisi lingkungan Dr. Elviriadi, S.Pi., M.Si., serta Vera Cyhtiana dari DLH Kota Dumai. Keduanya memberikan perspektif terkait persoalan lingkungan dan program pengelolaan lingkungan pemerintah daerah.

Kegiatan ini diikuti pelajar, mahasiswa, komunitas masyarakat, insan media, serta perwakilan sejumlah instansi di Kota Dumai. Seminar dibuka oleh Wali Kota Dumai yang diwakili Asisten III Administrasi Umum Sekretariat Daerah Kota Dumai, Handayani, SH.

Komitmen ESG dan Tantangan Pengawasan Lingkungan

Area Manager Communication, Relations & CSR PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit Dumai, Tengku Muhammad Rum, mengatakan dukungan perusahaan terhadap seminar tersebut sejalan dengan komitmen penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) dalam kegiatan operasional dan bisnis perusahaan.

Menurutnya, forum semacam ini penting untuk membangun pemahaman bersama dan mendorong keterlibatan berbagai pihak dalam menjaga kelestarian lingkungan.

“Kegiatan yang mengangkat isu lingkungan tentu patut kita dukung. Seminar ini menjadi kesempatan bagi seluruh pihak untuk membangun pemahaman bersama dan meningkatkan kepedulian dalam menjaga kelestarian lingkungan serta menciptakan harmonisasi antara kawasan industri dan permukiman di Kota Dumai,” pungkas Muhammad Rum.

Di tengah pertumbuhan aktivitas industri di Kota Dumai, pengelolaan limbah, pengendalian dampak lingkungan, dan perlindungan kawasan pesisir tetap menjadi isu yang membutuhkan perhatian berkelanjutan. Transparansi data pemantauan, kepatuhan terhadap ketentuan lingkungan, serta evaluasi nyata terhadap efektivitas program menjadi aspek penting untuk memastikan komitmen keberlanjutan dapat dirasakan oleh masyarakat. *** (rls/red)